Selasa, Januari 01, 2008

Les Mengemudi

Saya telah memulainya Jumat lalu. Hari itu saya belajar 2 jam mengemudi. Sulit. Ya, ini pertama kalinya saya duduk di kursi supir. Pertama kalinya saya memegang setir.

Belajar mengemudi menjadi salah satu pilihan saya untuk memanfaatkan waktu liburan ini. Mengingat umur saya sudah cukup untuk menjadi pengemudi (alias mendapatkan SIM, tapi tidak mobilnya). Entah kapan saya akan menggunakan kemampuan mengemudi, yang penting saya belajar dulu. Kata mama saya begitu.

Walaupun sulit, ini menyenangkan. Seperti bermain game. Awalnya kita memang harus beradaptasi dulu dengan kontrol-kontrolnya, lalu masalah-masalah lain yang lebih menantang muncul.

Wah, sok sekali saya, padahal saya belum bisa, kok.

New Year Has Come

"Ck, berisik sekali," itulah yang pertama terpikirkan oleh saya saat mendengar berbagai macam suara kembang api dan petasan.

Tetap saja saya keluar rumah untuk melongok letusan-letusan di langit. Sebenarnya seluruh anggota keluarga saya keluar dan kami menyaksikannya bersama-sama. Warna-warni dalam berbagai bentuk. Kami cukup senang menikmatinya tanpa harus bersusah payah menyalakannya.

Tahun baru. Yey. Namun saya tidak merasa ada yang istimewa jadi sebenarnya kata 'yey' itu tidak ada dalam benak saya.

Walaupun begitu, saya senang bisa berkumpul bersama saudara-saudara saya menjelang tahun baru. Mereka datang dan menginap lalu kami berwisata ke kota Bogor yang mendung. Malamnya kami menonton Batman Begins sambil lahap menyantap sate yang susah payah dibakar oleh mama. Terus terang, belakangan ini jarang sekali saya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga besar. Saya senang.

Biasa saja sih, tapi cukup berkesan. Sebelum mereka pergi, menjelang pukul11.30 malam petasan dan kembang api mulai diluncurkan (dengan agak terpaksa karena adik saya yang paling kecil tidak bisa menerima kepergian mereka dan petasan itu dinyalakan untuk menghiburnya padahal langit masih menurunkan air). Dengan cepat petasan dihabiskan dan dengan cepat mereka pergi. Tak lama kemudian barulah saya bersama keluarga inti keluar lagi dari rumah itu dan melihat maraknya langit (kasihan bintang, sama sekali tidak terlihat).

Itulah pergantian tahun bagi saya tahun ini. Tidak istimewa, namun jelas lebih istimewa dari tahun lalu (saya masih ingat saya sibuk ber-internet ria di kamar ketika saya mendengar letusan-letusan kembang api tahun lalu -satu rumah tertidur lelap-). Namun dalam arti sesungguhnya sepertinya tahun lalu lebih bermakana karena dulu saya dengan semangat memikirkan resolusi-resolusi tahun baru.

Sekarang tidak. Saya malas. Saya dikecewakan (mengecewakan) diri saya sendiri (mengingat resolusi tahun lalu tidak berjalan dengan baik).

Apapun itu bagi saya, bagi Anda, "Selamat tahun baru 2008! Jalanilah tahun ini dengan apa yang menurut Anda lebih baik."

Jumat, Desember 28, 2007

Someone's Birthday

Cerita ini berlatar tanggal 26 kemarin. Saya bangun seperti biasa dan seperti biasa pula, yang saya lakukan adalah langsung meninjau meja makan. Saat saya sedang sibuk mencomot makanan, mama berkata, "Oh iya, sekarang Rijal ulang tahun!". Ups, saya baru ingat (memang sering begitu, kan? Sepanjang tahun kau tahu pasti tanggal ulang tahun seseorang, namun saat hari H kau lupa sama sekali dan baru sadar besoknya saat tanpa sengaja melihat kalender).

Rijal itu adik saya. Kami cuma berbeda satu tahun. Saat dia bangun, mama langsung memeberinya selamat dan segala macam doa yang panjang-panjang. Setelah itu papa menyusul. Lalu tiba giliran saya (seharusnya).

Saya menolak. Alasan saya?

"Dulu juga dia ga nyelametin saya," jawab saya cuek.

Yah, sebenarnya bukan itu juga sih alasannya. Memang susah bersikap pada adik yang hanya berbeda satu tahun. Saudara kembar bukan, tapi dia juga tidak menganggap saya kakak (sedangkan saya sangat menganggapnya sebagai adik yang harus menurut pada kakaknya). Agak canggung saja dan jelas saya malu kalau harus mengucapkannya di depan mama papa.

Pada akhirnya saya tetap tidak mengucapkan sepatah kata selamat pun. Namun, tidak ada yang menganggap serius masalah itu. Tidak Rijal, tidak mama, tidak pula saya.

The Adventure Begins

Haha...Mungkin tidak pantas juga disebut Adventure, hanya saja hari libur natal kemarin saya sekeluarga benar-benar pergi ke The Jungle Water Adventure, kok. Tempat itu menawarkan petualangan air dengan suasana hutan rimba. Setidaknya itulah yang dikatakan iklan. Kebentulan papa sangat terpikat pada iklan tersebut sehingga dengan agak ngotot beliau menentukan tujuan hari itu. Akhirnya kami pergi ke Bogor dan hanya mengandalkan papan penunjuk jalan untuk mencapainya (tempatnya memang baru dibuka dan tidak ada seorangpun dari kami pernah ke sana).

Bukannya suasana hutan rimba, yang terasa malah suasana semen. Ternyata pembangunannya belum selesai sehingga para pekerja bangunan harus rela bekerja di antara orang-orang yang berenang (atau sebaliknya, para pengunjung harus rela menikmati wahana sambil dipandangi oleh para pekerja itu). Meskipun begitu, pihak pengelola menaruh burung-burung tropis di beberapa tempat. Tentu saja tidak ditaruh begitu saja, ada yang dikandang, ada juga yang ditenggerkan pada sebuah tiang dengan kaki terantai. Yah, tapi tempat ini juga lumayanlah, ada dua seluncuran besar serta berbagai macam kolam.

Asal tahu saja, karena sejak awal sudah ditentukan hari itu kegiatan kami akan bertema "air" saya tidak mandi sebelum berangkat (tapi saya gosok gigi dan cuci muka, kok!). Setelah kurang lebih tiga jam puas bermain, saya pun segera menuju ruang bilas. Saya mengantre cukup lama sampai akhirnya bisa masuk ke sebuah ruangan ber-shower. Cepat-cepat saya memutar keran shower karena badan saya sudah agak gatal-gatal.

Tidak ada air. Hanya setetes dua tetes yang mengucur dari shower yang berlubang banyak itu. Ck, sial. Sayup-sayup saya mendengar suara dari luar pintu.

"Airnya habis, ya?"
"Oh, habis ya, Bu, airnya?"
"Iya, udah bilang kok ke mbak-nya"

Akh, yang jelas sudah bilang atau belum airnya tidak juga mengucur. Saya hanya diam sambil menahan rasa kesal. Masa, wahana air kehabisan air? Sangat tidak masuk akal. Akhirnya saya pasrah hanya mengeringkan badan dengan handuk dan berganti baju.

Kamis, Desember 27, 2007

The Holiday Begins

Ok, sebenarnya memang belum mulai. Saya saja yang mempercepat mulainya. Habis untuk apa lagi menganggap belum libur sementara yang saya lakukan hanya tidur-tiduran menonton DVD sambil mengemil sepanjang hari. Ya, sekolah sudah tidak mengadakan kegiatan belajar-mengajar lagi. Memang sekolah sempat agak memaksakan diri menjadwalkan pelajaran tambahan selama tiga hari setelah ULUM. Apa hasilnya? Baik guru maupun murid tidak benar-benar melaksanakannya. Kelas-kelas hanya separuh(kurang) terisi. Apalagi pembagian rapot yang direncanakan setelah pelajaran tambahan itu diundur seminggu berikutnya (hari ini, jadi saya sudah menganggur kira-kira satu minggu), makin banyak saja hari kosong itu. Tidak apa-apa, justru saya menerimanya dengan gembira (saya yakin kebanyakan murid begitu). Jarang-jarang saya bisa menjalani hari tanpa perlu memikirkan apapun.

Namun, saya sudah bertekad sejak lama bahwa liburan kali ini harus saya manfaatkan dengan baik. Berbagai kegiatan telah terdaftar dalam "Daftar Kegiatan Liburan" saya (walaupun sepertinya hanya hangat-hangat tai ayam saja). Saya tidak mau liburan saya berlalu begitu saja seperti liburan-liburan saya sebelumnya. Maka saya memutuskan untuk segera pulang ke rumah orang tua saya di Bekasi dengan berbagai rencana menumpuk di otak saya. (Meskipun begitu, saya akui hari-hari kosong itu betul-betul tidak berguna. Saya benar-benar hanya mengurung diri di kamar menonton DVD sejak bangun hingga tidur selama beberapa hari sebelum akhirnya saya memutuskan pergi ke Bekasi. Sebetulnya saya juga sudah agak bosan tinggal bersama kakek-nenek saya, saya ingin mencicipi lagi masakan mama.)

Jadi begitulah tanggal 24 lalu papa bersedia menjemput saya (dan adik saya) ke Bandung setelah bekerja setengah hari (memang hanya setengah hari, kok, besoknya kan natal). Yah, pokoknya akhirnya kami tiba di rumah Bekasi dengan selamat (dan perut kenyang,karena kami membeli makanan AW di pemberhentian). Saya langsung mencicipi sup daging buatan mama(ya, dengan perut kenyang saya masih menyempatkan diri) dan kami sekeluarga lalu duduk di depan TV. Benar-benar hanya duduk di depan TV yang menyala karen TV itu tidak kami tonton. Kami sibuk bercengkrama mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting (tidak perlu penting kan, toh ini hanya semacam reuni bukannya diskusi).

Malam itu akan menjadi malam yang menyenangkan kalau saja tidak terjadi perdebatan sengit antara saya dan papa. Perdebatan konyol yang membahas pemenang Asian Idol itu benar-benar membuat saya gondok. Papa saya mendebat seakan saya sama sekali tidak mengerti hikmah kejadian itu : bagaimana mengambil hati orang. Tentu saja saya mengerti bahwa hal itulah yang menjadi kelebihan sang pemenang. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa betapa peserta yang lain memiliki kualitas yang lebih baik, sementara papa terus mendebat saya (setiap kali sebelum saya selesai bicara, bisa bayangkan betapa kesalnya selalu disela seperti itu) bahwa bukan kualitas yang penting bla-bla-bla. Sementara saya berkata "iya" setiap kali dia berbicara, dia sibuk menyela saya dengan "tapi". Meskipun begitu, saat mau tidur saya sudah melupakan rasa kesal itu (walaupun selalu muncul lagi ketika saya membahasnya seperti ini).

Satu kebodohan lagi yang saya (atau tepatnya adik saya) lakukan. Rencana liburan yang begitu sempurna harus saya jalankan tanpa kamera. Kamera itu tertinggal begitu saja di kamar adik saya yang berpikir bahwa kamera tidak penting saat liburan. Oh, terserahlah.